20 Makanan Amerika yang Jarang Dikenal Wisatawan tetapi Punya Rasa yang Menarik

Ketika orang membicarakan makanan Amerika Serikat, yang biasanya langsung muncul dalam pikiran adalah burger, steak, fried chicken, barbecue, pizza, atau hot dog. Hidangan tersebut memang menjadi bagian penting dari budaya kuliner Amerika, tetapi kekayaan makanan di negara ini jauh lebih luas. Setiap wilayah memiliki resep rumahan, makanan pekerja, hidangan komunitas imigran, dan sajian festival yang belum tentu dikenal luas di luar daerah asalnya.

Justru makanan-makanan regional inilah yang menarik untuk dijelajahi. Scrapple dari kawasan Mid-Atlantic, goetta dari Cincinnati, pepperoni roll dari West Virginia, spiedie dari Binghamton, hingga chislic dari South Dakota memperlihatkan bahwa kuliner Amerika tidak mempunyai satu rasa tunggal. Tradisi Eropa, Afrika, Appalachia, masyarakat lokal, komunitas imigran, serta kondisi geografis dan sejarah ekonomi setempat ikut membentuk apa yang dimakan masyarakat di berbagai bagian Amerika.

Daftar berikut bukan peringkat makanan terbaik. Istilah “jarang dikenal wisatawan” juga bersifat relatif: beberapa makanan cukup populer di daerah asalnya dan semakin mudah ditemukan di luar wilayah tersebut. Tujuannya adalah memperkenalkan 20 hidangan regional yang sering berada di luar daftar kuliner Amerika yang paling umum.

1. Scrapple – Pennsylvania dan Mid-Atlantic

Scrapple adalah makanan sarapan yang sangat identik dengan kawasan Mid-Atlantic, terutama Pennsylvania dan daerah sekitarnya. Secara tradisional, makanan ini dibuat dari campuran daging dan bagian sisa hasil pemotongan babi yang dimasak bersama kaldu dan tepung atau biji-bijian, kemudian dibentuk menjadi loaf dan diiris untuk digoreng. Smithsonian menjelaskan scrapple sebagai produk babi regional Amerika yang menggabungkan grain dengan potongan dan bagian daging yang tersisa dari proses penyembelihan.

Teksturnya padat dengan bagian luar yang dapat menjadi renyah ketika digoreng. Rasanya gurih, sedikit earthy, dan sangat cocok dipadukan dengan telur, roti panggang, atau saus apel. Bagi wisatawan yang terbiasa dengan bacon dan sausage, scrapple menawarkan pengalaman sarapan yang jauh lebih khas.

2. Goetta – Cincinnati, Ohio

Goetta merupakan salah satu makanan khas Cincinnati yang memperlihatkan pengaruh imigran Jerman. Makanan ini umumnya menggunakan daging giling, terutama babi atau campuran babi dan sapi, bersama oats, bawang, dan rempah. Campuran tersebut dibentuk menjadi loaf, dipotong, lalu digoreng hingga bagian luarnya kecokelatan.

Goetta sering disantap untuk sarapan bersama telur. Teksturnya berbeda dari sosis biasa karena oats memberikan karakter yang lebih lembut sekaligus sedikit kenyal. Bagi wisatawan, goetta menarik karena rasanya berada di antara breakfast sausage dan grain-based meat loaf.

3. Burgoo – Kentucky dan Ohio River Valley

Burgoo adalah stew kental yang memiliki tradisi kuat di Kentucky. Sumber Library of Congress mendokumentasikan burgoo sebagai stew berbumbu yang dimasak dalam konteks tradisi komunitas, termasuk acara memasak bersama. Resepnya dapat berbeda-beda, tetapi umumnya menggabungkan daging dengan sayuran seperti jagung, okra, kentang, bawang, atau bahan lain yang tersedia.

Karakter burgoo terletak pada proses memasaknya. Hidangan ini sering dibuat dalam jumlah besar sehingga cocok untuk acara komunitas. Rasanya kaya, gurih, hangat, dan terasa seperti makanan yang memang dirancang untuk dinikmati perlahan.

4. Spoonbread – Appalachia dan Upper South

Spoonbread adalah hidangan berbasis cornmeal yang teksturnya sangat lembut, berada di antara cornbread dan pudding. Southern Foodways Alliance memasukkan spoonbread sebagai salah satu contoh penting makanan khas kawasan Selatan Amerika.

Berbeda dengan roti jagung yang bisa diiris dan dipegang, spoonbread biasanya disajikan dengan sendok. Teksturnya lembut dan creamy, sementara rasa jagungnya tetap terasa. Hidangan ini cocok sebagai pendamping sup, daging panggang, atau sayuran.

5. Livermush – North Carolina

Livermush merupakan makanan tradisional Carolina Utara yang dibuat dari hati babi, daging atau bagian babi lainnya, serta cornmeal dan bumbu. Campuran tersebut dimasak, dibentuk, kemudian biasanya diiris dan digoreng.

Nama makanan ini mungkin membuat sebagian wisatawan ragu, tetapi bagi masyarakat di wilayah asalnya livermush merupakan bagian dari tradisi sarapan dan makanan rumahan. Rasanya gurih dan kaya, dengan tekstur padat serta aroma khas hati. Biasanya livermush disajikan bersama telur, biscuit, atau saus.

6. Chow-Chow – Appalachia dan Southern United States

Chow-chow bukan hidangan utama melainkan relish atau acar sayuran yang dapat dibuat dari campuran kol, tomat hijau, bawang, paprika, dan sayuran lain. Southern Foodways Alliance mendokumentasikan chow-chow sebagai bagian dari tradisi pangan Appalachia, termasuk kebiasaan membuat dan mengawetkannya di rumah.

Rasanya dapat bervariasi dari asam dan manis hingga pedas. Chow-chow sangat menarik karena sedikit saja sudah dapat mengubah makanan sederhana seperti beans, cornbread, hot dog, atau daging panggang. Bagi wisatawan, ini adalah contoh bagaimana teknik pengawetan bisa menjadi bagian penting dari identitas rasa suatu wilayah.

7. Pepperoni Roll – West Virginia

Pepperoni roll adalah roti lembut yang diisi pepperoni lalu dipanggang. Makanan ini mempunyai hubungan erat dengan kawasan pertambangan West Virginia dan sejarah komunitas imigran Italia di wilayah tersebut. Sumber regional mencatat bahwa makanan ini berkembang sebagai bekal praktis bagi pekerja tambang karena mudah dibawa dan dimakan.

Selama dipanggang, minyak dan lemak dari pepperoni meresap ke dalam roti sehingga bagian dalam menjadi sangat gurih. Beberapa versi modern menambahkan keju, saus tomat, atau paprika. Sederhana tetapi memuaskan, pepperoni roll adalah contoh makanan pekerja yang berubah menjadi ikon daerah.

8. Salt-Rising Bread – Appalachia

Salt-rising bread merupakan tradisi roti Amerika yang berbeda dari sourdough karena fermentasinya tidak mengandalkan ragi komersial. Teknik lama ini menggunakan proses fermentasi khusus yang menghasilkan aroma khas. Tradisi tersebut hampir hilang di beberapa tempat, tetapi masih dipertahankan oleh pembuat roti tertentu.

Rasanya cenderung savory dan aromatik, dengan tekstur yang lebih padat daripada roti sandwich modern. Bagi penggemar roti, makanan ini menarik bukan karena tampilannya yang mewah, melainkan karena teknik pembuatannya membawa cerita tentang dapur rumah dan tradisi lama Appalachia.

9. Sonker – North Carolina

Sonker adalah dessert tradisional yang berhubungan dengan wilayah Surry County, North Carolina. Bentuknya menyerupai pie atau cobbler besar dengan buah sebagai isian dan adonan yang dipanggang hingga matang.

Sonker dapat dibuat dengan berbagai buah sesuai musim. Rasanya biasanya manis, hangat, dan sangat cocok disantap bersama saus atau pendamping dingin. Dessert seperti ini menunjukkan bahwa kuliner regional Amerika tidak hanya menarik dari sisi makanan gurih, tetapi juga dari tradisi kue rumahan yang berkembang di komunitas tertentu.

10. Benedictine – Louisville, Kentucky

Benedictine adalah spread dingin yang secara tradisional dibuat dari cream cheese, mentimun, dan bawang, kemudian digunakan sebagai isian sandwich atau sajian pembuka. Hidangan ini berhubungan kuat dengan tradisi kuliner Louisville.

Rasanya ringan, creamy, segar, dan sedikit tajam dari bawang. Dibandingkan sandwich Amerika yang penuh daging, Benedictine menawarkan pengalaman yang jauh lebih lembut. Warnanya juga menarik karena mentimun dapat memberikan rona hijau pucat pada campuran cream cheese.

11. Hot Brown – Louisville, Kentucky

Hot Brown adalah sandwich terbuka yang dibuat dengan roti, kalkun panggang, bacon, dan saus keju yang kemudian dipanggang atau dibakar hingga permukaannya berwarna keemasan. Hidangan ini lahir dari tradisi hotel di Louisville dan menjadi salah satu makanan lokal yang terkenal di Kentucky.

Walaupun semakin dikenal di kalangan pecinta kuliner, Hot Brown masih cukup asing bagi banyak wisatawan internasional. Rasanya creamy, gurih, smoky dari bacon, dan sangat mengenyangkan. Hidangan ini cocok bagi orang yang menyukai kombinasi open-faced sandwich dan comfort food.

12. Runza – Nebraska

Runza adalah roti berbentuk pocket yang berisi campuran daging sapi giling, kol, bawang, dan bumbu. Makanan ini berakar pada tradisi imigran Eropa Timur dan menjadi salah satu makanan khas Nebraska.

Bagian luarnya berupa adonan roti lembut, sedangkan bagian dalamnya gurih dan hangat. Karena bentuknya praktis, runza juga mudah dimakan saat bepergian. Bagi wisatawan yang mencari makanan regional di Midwest, runza memberikan gambaran bagaimana tradisi imigran beradaptasi menjadi makanan lokal Amerika.

13. Bierock – Great Plains

Bierock memiliki kemiripan dengan runza karena sama-sama merupakan pastry berisi daging dan sayuran. Tradisinya berkembang melalui komunitas keturunan Jerman dari wilayah Eropa Timur, terutama di Great Plains.

Isian biasanya terdiri dari daging sapi, kol, bawang, dan bumbu. Roti yang lembut membuatnya terasa seperti perpaduan antara sandwich dan savory pastry. Perbedaan resep antar keluarga dan daerah membuat bierock menarik bagi wisatawan yang ingin mencicipi versi lokal dari tradisi kuliner imigran.

14. Pasty – Upper Peninsula, Michigan

Pasty adalah pastry berbentuk setengah lingkaran yang berisi daging dan sayuran. Di Upper Peninsula Michigan, makanan ini sangat berkaitan dengan sejarah komunitas penambang dan pengaruh imigran Cornish.

Versi tradisional biasanya menggunakan daging sapi bersama kentang, rutabaga atau sayuran sejenis, dan bawang. Kulit pastry menjadi pembungkus yang praktis. Saat masih hangat, teksturnya kontras antara kulit yang renyah dan isian yang lembut serta gurih.

15. Booyah – Wisconsin

Booyah adalah stew atau sup kental yang dikenal terutama di kawasan Wisconsin dan Upper Midwest. Hidangan ini sering dibuat dalam jumlah besar untuk acara komunitas dan pertemuan sosial.

Resepnya dapat memakai beberapa jenis daging serta sayuran, sehingga rasa akhirnya sangat kaya. Ada versi yang menggunakan ayam, sapi, atau kombinasi lainnya. Daya tarik booyah terletak pada sifatnya sebagai makanan komunitas: sebuah panci besar, banyak bahan, dan proses memasak yang dirancang untuk memberi makan banyak orang.

16. Chislic – South Dakota

Chislic adalah potongan kecil daging yang ditusuk atau disajikan dalam bentuk bite-size lalu dipanggang, digoreng, atau dimasak hingga kecokelatan. Daging yang digunakan secara tradisional dapat berupa daging domba atau hewan buruan, meskipun versi modern sangat bervariasi.

Bumbunya cenderung sederhana sehingga rasa daging tetap menjadi pusat perhatian. Chislic menarik karena cara makannya sangat santai: potongan kecil daging dapat dinikmati sebagai camilan, makanan pembuka, atau sajian bersama.

17. Spiedie – Binghamton, New York

Spiedie adalah sandwich khas kawasan Binghamton yang menggunakan potongan daging yang telah dimarinasi, kemudian dipanggang dan ditempatkan di dalam roti. Sumber kuliner New York mencantumkan spiedie sebagai salah satu makanan regional khas Central New York, sementara Food Network menjelaskan tradisi marinasi dan pemanggangan yang menjadi cirinya.

Ayam adalah salah satu versi yang umum, meskipun daging lain juga dapat digunakan. Marinasi memberikan rasa asam, gurih, dan herbal sebelum daging masuk ke panggangan. Hasilnya sederhana tetapi sangat beraroma.

18. Chicken Riggies – Utica, New York

Chicken Riggies adalah pasta rigatoni dengan ayam dan saus yang biasanya memiliki rasa tomat, paprika, bawang, bawang putih, dan elemen pedas. Hidangan ini sangat berhubungan dengan Utica dan termasuk dalam daftar makanan khas Central New York.

Rasanya dapat menjadi creamy, pedas, atau tomato-forward tergantung resep. Tekstur rigatoni membuat saus menempel dengan baik sehingga setiap suapan terasa kaya. Bagi wisatawan, Chicken Riggies memperlihatkan bagaimana masakan Italia-Amerika bisa berkembang menjadi hidangan yang sangat lokal.

19. Calas – New Orleans, Louisiana

Calas adalah fritter berbahan dasar nasi yang digoreng dan memiliki hubungan panjang dengan tradisi Creole New Orleans. Dalam bentuk klasik, nasi matang dicampur dengan bahan pembentuk adonan, kemudian digoreng hingga bagian luar menjadi keemasan.

Calas biasanya hadir sebagai makanan manis atau camilan, tergantung resep dan penyajiannya. Teksturnya renyah di luar tetapi lembut di bagian dalam. Hidangan ini menunjukkan bahwa tradisi kuliner New Orleans jauh lebih beragam daripada gumbo, jambalaya, dan beignets yang lebih sering dikenal wisatawan.

20. Yakamein – New Orleans, Louisiana

Yakamein adalah sup mi yang menjadi bagian unik dari budaya makanan New Orleans. Hidangan ini biasanya menggabungkan mi, kaldu berbumbu, daging, dan telur rebus. Versi resep dapat berbeda-beda di antara keluarga dan penjual.

Karakter rasanya hangat, gurih, dan sedikit spicy. Yakamein sering disebut sebagai contoh makanan yang memperlihatkan pertemuan berbagai pengaruh kuliner di New Orleans. Bagi wisatawan, hidangan ini menarik karena tampilannya sederhana tetapi mempunyai identitas rasa yang kuat.

Mengapa Makanan Regional Amerika Layak Dicoba?

Ke-20 makanan di atas memperlihatkan satu hal penting: makanan Amerika tidak dapat diringkas hanya menjadi burger dan barbecue. Banyak hidangan lahir dari kebutuhan praktis, bahan yang tersedia, sejarah migrasi, tradisi komunitas, atau kebiasaan memasak keluarga.

Scrapple dan livermush menunjukkan bagaimana masyarakat memanfaatkan bahan secara menyeluruh. Pepperoni roll, runza, bierock, dan pasty menunjukkan pengaruh komunitas imigran. Burgoo dan booyah memperlihatkan kekuatan tradisi memasak dalam jumlah besar untuk komunitas. Sementara spiedie, Chicken Riggies, calas, dan yakamein memperlihatkan bagaimana kota-kota tertentu menghasilkan hidangan yang sangat spesifik.

Pengalaman kuliner seperti ini juga membuat perjalanan menjadi lebih menarik. Mencari makanan yang hanya populer di satu negara bagian atau satu kawasan dapat membawa wisatawan ke restoran keluarga, bakery lokal, pasar, festival, dan komunitas yang tidak selalu muncul dalam panduan wisata umum.

Tips Mencoba Makanan Regional Amerika

Pertama, tanyakan kepada penduduk setempat. Nama makanan yang sama dapat memiliki versi berbeda dari satu kota ke kota lain. Kedua, jangan hanya mencari restoran besar. Banyak makanan regional justru lebih mudah ditemukan di diner, bakery, market, food festival, atau restoran keluarga. Ketiga, perhatikan sejarah makanan tersebut. Mengetahui bagaimana sebuah makanan muncul sering membuat pengalaman mencicipinya menjadi jauh lebih bermakna.

Terakhir, bersiaplah dengan rasa yang tidak familiar. Beberapa makanan menggunakan bahan yang mungkin jarang ditemukan dalam menu internasional, seperti hati babi, relish sayuran fermentasi, cornmeal, atau kombinasi daging dan grain. Keunikan itulah yang membuat makanan regional layak dicoba.

Kesimpulan

Amerika Serikat mempunyai lanskap kuliner yang sangat luas, dan banyak makanan menarik masih berada di luar radar wisatawan. Dari sarapan berbasis scrapple dan goetta, stew seperti burgoo dan booyah, pastry seperti runza dan pasty, sampai hidangan khas New York dan Louisiana, setiap makanan membawa cerita tentang tempat dan masyarakat yang membuatnya.

Jika suatu hari berkunjung ke Amerika Serikat, jangan hanya mencari makanan yang sudah terkenal secara global. Sisihkan waktu untuk bertanya tentang makanan lokal yang biasanya dimakan masyarakat setempat. Bisa jadi, justru hidangan yang namanya belum pernah terdengar akan menjadi salah satu kenangan kuliner paling menarik selama perjalanan.

Sumber dan Catatan Referensi

  • Smithsonian Magazine — pembahasan sejarah dan karakter scrapple serta tulisan tentang perkembangan kuliner regional Amerika.
  • Library of Congress — koleksi dan dokumentasi sejarah makanan regional Amerika, termasuk burgoo dan buku masak lama.
  • Southern Foodways Alliance — dokumentasi foodways Amerika Selatan dan Appalachia, termasuk spoonbread, chow-chow, soup beans, dan tradisi pangan regional.
  • New York State tourism food materials — daftar makanan regional seperti spiedie, Chicken Riggies, dan tomato pie.
  • Catatan: resep dan bahan dapat berbeda menurut keluarga, kota, restoran, dan generasi. Istilah “jarang dikenal wisatawan” digunakan secara relatif, bukan sebagai ukuran statistik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *